JALAN KAKI DAN KAKI

Apa yang kamu lakukan untuk menghilang kan stres? Kumpul dengan teman-teman memang jadi pengobat stres yang manjur. Tapi bagi saya berjalan kaki adalah yang paling efektif. Dari dulu saya suka berjalan kaki. Sejak SD saya lebih sering berjalan kaki ke sekolah padahal jaraknya lumayan jauh. Padahal saya punya alternatif transportasi seperti menumpang mobil tua papa atau naik angkot. Kebiasaan itu berlangsung sampai sekarang.

Saat sedih, saya akan berjalan kaki tak tentu arah. Berjalan kaki membuat saya punya waktu untuk berpikir. Menerjemahkan keadaan yang saya alami sekarang. Ketika itu pula, saya melihat banyak hal. Kamu tidak akan pernah tahu akan menemukan kejadian apa atau melihat hal menarik apa saat berjalan kaki. Bahkan kalaupun jalanan itu sering kamu lalui. Kamu tidak tahu apa yang terlewatkan, sampai menyusurinya lagi.

Damai. Itu yang saya rasakan. Meskipun trotoar yang saya lewati berantakan. Kendaraan di jalanan berisik membunyikan klakson. Namun yang pasti, saat berjalan kaki hanya ada saya, masalah, dan langit. Kami berdiskusi hehe… Meskipun lebih menyenangkan melakukan ritual itu di tempat yang lebih keren.

Rekor berjalan kaki saya di Jakarta adalah dari Kementerian BUMN di Thamrin hingga Pasar Festival di kuningan. 1,5 jam dengan kecepatan 5 km/ jam. Berjalan kaki sepanjang itu mengingatkan satu hal, tentang nature manusia yang tidak pernah puas. Tidak pernah berhenti mencari dan menetapkan target-target baru.

Tadinya hanya ingin berjalan kaki sampai halte busway BI. Lalu terpikir jalan sampai HI, kemudian tidak puas dan ingin meneruskan sampai dukuh atas. Dari dukuh atas ingin sampai kuningan. Namun ketika berniat meneruskanperjalanan ke Mampang, saya mulai mempertimbangkan berbagai hal. Pada titik ini manusia harus tahu kapan seharusnya berhenti. Atau kapan seharusnya dia mencapai tujuan yang baru dengan cara yang berbeda. Akhirnya saya naik P20 sampai ke kontrakan hehe.

Sayangnya, akhir-akhir ini kebiasaan itu sulit dilakukan. Terlebih karena beberapa waktu lalu kaki saya cedera. Saya baru tahu kalau itu disebabkan karena ternyata anatomi kaki saya tidak mendukung saya untuk berjalan jauh. Dokter Ismail si ahli bedah orthopedi, bilang kalau kaki saya bentuknya flat. Kaki flat akan cepat merasa capek ketika berjalan kaki. Akhirnya sekarang saya harus selalu menggunakan insole khusnya medial arch support. Insole ini membantu agar bagian tengah telapak kaki saya terangkat. Jadinya bisa dijejak seperti kaki normal. “Seperti mobil pit, kaki pun harus di-balancing,” katanya.

Dia pun menyuruh saya untuk melakukan sejumlah hal kecil setiap pagi. Berlari-lari kecil di tempat saat bangun tidur. Ini untuk melepaskan otot kaki yang instirahat saat tidur berjam-jam. Selain itu, melakukan pijatan kecil di telapak kaki bila terasa capek. Serta merendam kaki di air hangat setiap kaki berjalan jauh. dr Ismail juga menyarankan saya untuk melakukan olah raga ringan. Olah raga berat macam marathon atau futsal tidak boleh lagi saya lakukan. Padahal dulu saya back terbaik di tim futsal republika hahaha. Dia menyarankan saya untuk bersepeda dan berenang. Namun berhubung dua aktivitas itu tidak pandai saya lakukan, jadinya saya tukar dengan kelas yoga saja hehe.

(Oke tertawalah, saya memang tidak bisa main sepeda atau berenang heuu…. )

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s